Ads 468x60px

Sabtu, 18 Desember 2010

Paradigma Sosiologi

Didalam memahami fenomena atau realitas sosial yang ada dikehidupan ini. maka dari itu dalam memahami realitas sosial dibutuhkan cara pandang agar kita tidak salah dalam memahami realitas sosial yang ada di dalam kehidupan ini, dan inilah yang dinamakan Paradigma. Paradigma merupakan suatu cara pandang untuk memahami realitas yang merujuk pada latar belakang dan pengalaman yang dialami individu. namun menurut kesepakatan sosiolog yang mengatakan bahwa paradigma merupakan kesepakatan para ilmuan yang terfokus pada bidang kajian tertentu sesuai dengan disiplin ilmu terkait. Didalam sosiologi terkenal tiga paradigma yang dikenalkan oleh George Ritzer yakni Paradigma Fakta Sosial, Paradigma Definisi Sosial,Paradima Perilaku Sosial. Paradigma Fakta Sosial yang dipelopori oleh tokoh sosiolog EMILE DURKHEIM yang mana ruang lingkup paradigma fakta sosial yakni memahami apa yang nyata dan memahami apa yang dianggap nyata. wujud konkrit dari apa yang nyata dan apa yang dianggap nyata yakni adanya sebuah struktur sosial dan pranata sosial. struktur sosial dan pranata sosial merupakan hal yang nyata namun di dalam struktur dan pranata sosial terdapat nilai-nilai dan norma-norma yang mana inilah yang suatu yang dianggap nyata. kalau kita melihat bentuk nyata dari nilai-nilai dan norma-norma memang tidak ada. namun nilai dan norma ini dianggap ada (nyata) karena nilai dan norma itu sifatnya abstrak. contoh : nilai kesopanan, di pulau jawa nilai kesopanan ini masih di pegang erat seperti apabila orang tua duduk di bawah seorang yang lebih muda tidak boleh duduk di atas. kalau nilai dan norma itu di langgar maka ada hukumannya baik itu cemohan hingga hukuman fisik. nah, inilah wujud dari suatu yang dianggap nyata. Yang kedua, Paradigma Definisi Sosial. paradigma ini mencoba untuk memahami makna-makna subjektif yang terkandung didalam individu. Dalam memahami paradigma definisi sosial maka dibutuhkan metode, dan metode yang digunakan yakni metode Verstehen atau pengamatan partisipatoris yang di ikuti peran serta oleh sang peneliti. contoh ketika orang jawa berinteraksi dengan orang batak, orang jawa menganggap bahwa orang batak tuch orangnya keras, suka marah-marah klo ngmong, dan ini tidak dibenarkan oleh paradigma definisi sosial karena adanya pemberian stereotip pada orang batak tanpa mengetahui makna-makna subjektif yang terkandung dalam orang batak. yang ketiga adalah Paradigma Perilaku Sosial mencoba memahami perilaku yang tampak dengan cara observasi langsung dengan melihat perilaku yang tampak. dan yank kedua dengan cara eksperimen. SEMOGA BERMANFAAT

Tidak ada komentar:

Posting Komentar